Home / Blog / TENTANG MALAM, AIR MATA, DAN HARAPAN YANG TIDAK BENAR-BENAR PADAM

TENTANG MALAM, AIR MATA, DAN HARAPAN YANG TIDAK BENAR-BENAR PADAM

Setiap malam aku menangisimu.
Bukan dengan suara keras,
hanya isak pelan yang kupendam di balik bantal
agar dunia tidak tahu betapa rapuhnya aku tanpamu.

Saat lampu dipadamkan dan kota mulai diam,
namamu selalu datang paling dulu.
Aku mengingat caramu tertawa,
caramu memanggil namaku,
dan caramu pergi tanpa pernah benar-benar pamit.

Aku menangis karena rindu.
Menangis karena kehilangan.
Menangis karena masih berharap
pada seseorang yang mungkin sudah tidak menoleh lagi.

Setiap malam, ada doa kecil yang sama.
Bukan doa yang rumit.
Aku hanya berharap—
kalau saja kamu mengetuk pintu saat itu juga.
Kalau saja kamu datang,
mengatakan bahwa aku tidak sendirian,
bahwa aku masih berarti.

Aku membayangkan kamu berdiri di depanku,
tanpa kata berlebihan,
hanya berkata,
“Maaf, aku terlambat.”

Dan air mataku akan berhenti.
Bukan karena luka sembuh,
tapi karena akhirnya aku ditemui.

Namun malam selalu berakhir sama.
Air mata kering dengan sendirinya.
Pintu tetap tertutup.
Dan aku kembali belajar tidur
dengan harapan yang tidak pernah dijawab.

Aku tahu, berharap seperti ini menyakitkan.
Tapi bagaimana caranya berhenti berharap
jika setiap malam hatiku masih memanggil namamu?

Jadi aku menangis lagi.
Dan berharap lagi.
Karena meski lelah,
rindu ini belum mau pergi.

#REJAGALAU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *