Kita tinggal di kota yang sama.
Jalan yang kamu lewati setiap pagi mungkin pernah juga aku lewati. Kafe tempat kamu duduk menghabiskan sore mungkin pernah aku datangi tanpa sadar. Bahkan mungkin kita pernah berada di tempat yang sama, pada waktu yang hampir bersamaan.
Tapi anehnya…
Kita tidak pernah benar-benar bertemu.
Padahal dulu rasanya begitu dekat. Kita berbicara setiap hari, bertukar cerita tentang hal-hal kecil, tertawa lewat pesan yang sederhana. Kamu tahu banyak hal tentang hidupku, dan aku juga tahu banyak tentang harimu.
Tapi semua itu hanya terjadi di balik layar.
Kita selalu berkata, “Nanti kalau ada waktu kita ketemu ya.”
Nanti.
Kata itu terdengar begitu mudah waktu diucapkan. Seolah waktu selalu memberi kesempatan lain.
Tapi ternyata tidak.
Hari-hari terus berjalan. Kesibukan datang satu per satu. Dan tanpa kita sadari, percakapan yang dulu selalu ada perlahan mulai berkurang.
Sampai akhirnya… tidak ada lagi.
Sekarang kita masih tinggal di kota yang sama. Langit yang kita lihat masih sama, jalanan yang kita lalui juga mungkin tidak jauh berbeda.
Tapi kita seperti dua orang asing.
Kadang aku bertanya dalam hati…
Apakah suatu hari nanti kita akan benar-benar bertemu secara tidak sengaja? Berpapasan di jalan tanpa menyadari bahwa dulu kita pernah sedekat itu?
Atau mungkin kita akan terus hidup di kota yang sama…
Dekat dalam jarak,
tapi tidak pernah cukup dekat
untuk benar-benar bertemu lagi. 💔





