Aku masih berharap—anehnya, dengan cara yang tenang—bahwa di sana, di sudut hidupmu yang mungkin sudah berubah, masih ada aku.
Bukan sebagai tokoh utama, tidak juga sebagai seseorang yang harus kamu ingat setiap hari. Cukup sebagai nama yang sesekali muncul di kepalamu saat hujan turun tiba-tiba, atau saat lagu lama memutar tanpa sengaja. Aku berharap masih ada aku di sana, walau hanya sebagai jeda kecil di antara kesibukanmu.
Waktu membawa kita ke arah yang berbeda. Kamu melangkah lebih cepat, sementara aku tertinggal, sibuk meyakinkan diri bahwa melepaskan adalah bentuk lain dari mencintai. Tapi nyatanya, ada doa-doa kecil yang belum pernah benar-benar berhenti.
Aku sering bertanya pada diri sendiri: jika suatu hari kamu menoleh ke belakang, apakah kamu akan menemukan jejakku? Atau aku sudah terhapus rapi, seperti tulisan di pasir yang disapu ombak?
Berharap masih ada aku di sana bukan berarti aku ingin kembali. Aku hanya ingin tahu bahwa kehadiranku dulu tidak sia-sia. Bahwa pernah ada waktu di mana aku berarti, walau sekarang tidak lagi berdampingan.
Jika suatu hari kamu tersenyum tanpa tahu alasannya, aku harap itu karena kenangan kecil tentang kita. Dan jika tidak—tidak apa-apa. Setidaknya aku pernah berharap, dan pernah menaruh seluruh ketulusan di satu tempat yang bernama kamu.
#REJAGALAU





