Home / Blog / CERITA MATI RASA TANPAMU

CERITA MATI RASA TANPAMU

Sejak kau pergi, waktu seperti berhenti punya suara. Jam tetap berdetak, pagi tetap datang, tapi semuanya terasa seperti lewat di depan mata tanpa benar-benar menyentuh apa pun di dalam dada. Aku bangun, bekerja, tersenyum seperlunya—semua kulakukan dengan rapi, seperti orang yang masih hidup. Padahal, rasanya aku hanya menjalani daftar kebiasaan.

Dulu, hal-hal kecil punya warna. Kopi pagi terasa hangat karena kau selalu mengeluh pahitnya. Lagu di radio terdengar lebih pelan karena kau sering ikut bernyanyi, meski fals. Bahkan hujan pun punya makna—alasan sederhana untuk berteduh lebih lama bersamamu. Sekarang, kopi hanya cairan panas, lagu hanya suara, hujan hanya air jatuh dari langit. Tidak sedih. Tidak bahagia. Kosong.

Aku sempat mengira ini cuma fase. Orang-orang bilang, “Waktu akan menyembuhkan.” Tapi mereka lupa satu hal: waktu juga bisa membuat seseorang mati rasa. Luka memang tidak lagi berdarah, tapi ia juga tidak sembuh. Ia mengeras, membeku, lalu menjadi bagian dari tubuh. Tidak sakit, tapi selalu ada.

Aku pernah mencoba merasa marah padamu. Mengingat semua hal yang bisa kujadikan alasan untuk membencimu. Tapi kemarahan butuh energi, dan aku sudah terlalu lelah untuk itu. Aku juga mencoba merindukanmu dengan sengaja—membuka pesan lama, melihat foto-foto usang—berharap dadaku sesak, air mata jatuh, apa pun. Namun yang datang hanya sunyi. Seperti berdiri di tepi laut tanpa ombak.

Aneh rasanya menyadari bahwa kehilangan terbesar bukan saat kau pergi, melainkan saat aku berhenti merasakan apa pun karenanya. Aku tidak hancur. Aku tidak menangis setiap malam. Aku hanya… datar. Dan kedataran itu menakutkan, karena aku tahu aku pernah mencintai dengan begitu hidup.

Suatu sore, aku berjalan melewati tempat biasa kita duduk. Bangku itu masih di sana, catnya mengelupas di sudut yang sama. Aku duduk sebentar. Menunggu sesuatu terjadi. Mungkin kenangan akan menyergap, mungkin dadaku akan bergetar. Tapi tidak. Yang ada hanya angin dan suara langkah orang-orang yang tidak mengenalku.

Di situlah aku mengerti: mati rasa bukan berarti aku tidak pernah mencintaimu. Justru sebaliknya. Aku mencintaimu sampai perasaanku kehabisan cara untuk bertahan. Ia mematikan dirinya sendiri agar aku bisa tetap berdiri.

Aku tidak tahu kapan rasa ini akan kembali. Mungkin suatu hari, mungkin tidak. Tapi untuk sekarang, aku belajar menerima bahwa hidup tanpamu adalah hidup dengan volume rendah. Aku tetap berjalan, tetap bernapas, sambil membawa satu pengetahuan sunyi: ada bagian dari diriku yang tertinggal bersamamu, dan mungkin akan selalu begitu.

Dan jika suatu hari aku kembali bisa merasa, semoga bukan untuk menyesal. Semoga hanya untuk mengingat—bahwa aku pernah hidup sepenuhnya, meski akhirnya harus mati rasa tanpamu.

#REJAGALAU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *