Ia tidak percaya lagi pada rasa.
Bukan karena pernah patah yang hebat, tapi justru karena terlalu sering bertahan tanpa pernah benar-benar dipilih. Lama-lama, hatinya belajar satu hal: jangan berharap.
Hari-harinya berjalan datar. Tertawa seperlunya, sedih secukupnya, bahagia asal bisa tidur nyenyak. Ia menyebut itu “baik-baik saja”, meski jauh di dalam dirinya, ada ruang kosong yang sudah lama berhenti meminta diisi.
Lalu seseorang datang.
Tidak dengan janji. Tidak dengan kata manis. Hanya hadir—konsisten, tenang, dan tidak memaksa.
Awalnya ia tidak merasa apa-apa.
Pesan dibalas tanpa degup, pertemuan dilalui tanpa gugup. Bahkan saat orang itu tersenyum, hatinya tetap diam. Mati rasa, pikirnya. Seperti biasa.
Tapi ada hal kecil yang mulai berubah.
Ia menunggu balasan tanpa sadar.
Ia merasa kehilangan saat hari berlalu tanpa kabar.
Dan yang paling mengganggu: ia mulai peduli.
Jatuh cinta ternyata tidak selalu datang dengan ledakan rasa.
Kadang ia datang pelan, seperti air yang merembes ke tanah kering. Tidak terasa di awal, tapi perlahan membuat retakan-retakan lama menjadi lembap kembali.
Ia ketakutan.
Karena mencintai saat mati rasa berarti mempertaruhkan sesuatu yang sudah susah payah ia kubur: harapan.
Suatu hari, ia sadar.
Bukan saat jantungnya berdebar, tapi saat ia ingin berbagi lelah.
Bukan saat ia bahagia, tapi saat ia ingin orang itu tahu sisi rapuhnya.
Di situlah ia mengerti—
Ia jatuh cinta bukan untuk merasakan bahagia yang meledak-ledak,
melainkan untuk kembali merasakan apa pun.
Dan mungkin itu bentuk cinta yang paling jujur:
datang bukan untuk menyelamatkan,
tapi untuk menemani seseorang belajar merasa lagi.
#REJAGALAU





